<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>YAKOMA-PGI</title>
	<atom:link href="http://yakomapgi.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yakomapgi.org</link>
	<description>Pelayanan Komunikasi Masyarakat Gereja</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Jan 2012 04:43:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>BIARLAH SEGALA YANG BERNAFAS MEMUJI TUHAN</title>
		<link>http://yakomapgi.org/biarlah-segala-yang-bernafas-memuji-tuhan</link>
		<comments>http://yakomapgi.org/biarlah-segala-yang-bernafas-memuji-tuhan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 04:43:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nuryana Aditya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Naskah Televisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakomapgi.org/?p=1417</guid>
		<description><![CDATA[(1)  * Sudah menjadi rahasia umum, bahwa liturgi (baca: tata ibadah) umat Protestan, dipersepsikan memikili   semacam tingkatan-tingkatan kelas. Dalam ibadah Minggu di gereja, khotbah dipandang sebagai puncak liturgi  dan khotbah dipandang sebagai bagian terpenting dalam peribadahan. Apalagi tak sembarang orang berkhotbah di mimbar gereja; hanya mereka para klerus khususnya pendeta yang berpendidikan teologi yang boleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">
<p align="center">(1)</p>
<p> * Sudah menjadi rahasia umum, bahwa liturgi (baca: tata ibadah) umat Protestan, dipersepsikan memikili   semacam tingkatan-tingkatan kelas. Dalam ibadah Minggu di gereja, khotbah dipandang sebagai puncak liturgi  dan khotbah dipandang sebagai bagian terpenting dalam peribadahan. Apalagi tak sembarang orang berkhotbah di mimbar gereja; hanya mereka para klerus khususnya pendeta yang berpendidikan teologi yang boleh berkhotbah.<span id="more-1417"></span></p>
<p>* Bagaimana halnya dengan responsoria dan puji-pujian khususnya paduan suara? Penting, namun posisi dan perannya tak sepenting khotbah. Ibadah tanpa khotbah dipandang tidak sah. Kebaktian rumah tangga, kebaktian pernikahan, kebaktian penghiburan, kebaktian ulangtahun dan seterusnya boleh saja tanpa paduan suara, namun tidak boleh tanpa khotbah. Bahkan paduan suara dipahami lebih sebagai “bunga-bunga” ibadah; kelompok penggembira dan pemecah kejenuhan.</p>
<p>*Sampai hari ini, persepsi  ini masih terus berlangsung. Tak ada yang mencoba meluruskannya. Permahaman yang keliru tentang liturgi dan unsur-unsurnya membuat jemaat mengabaikan yang dipandang kurang penting dan boleh ditinggalkan. Khotbah dan kolekte, jangan ditinggalkan sedangkan sesudahnya boleh meninggalkan ibadah Minggu bila ada pesta adat pernikahan yang harus segera dihadiri!</p>
<p>*Menurut para ahli liturgi, dalam jemaat ada 2 jenis pelayan. Yang pertama adalah <em>Pelayan Firman</em>; dan kedua adalah <em>Pelayan Musik</em>. Pelayan Firman adalah mereka yang mendapat pendidikan khusus studi Alkitab dan karenanya mampu menafsirkan dan menyampaikan pesan-pesan Kitab Suci dengan baik kepada jemaat serta mendapat tahbisan khusus (minimal penatua atau sarjana teologi). Dalam  ibadah, pengetahuan tentang Alkitab dan berkhotbah dipandang yang tertinggi. Sedangkan pelayan musik, sering dianggap tidak paham Alkitab dan pengetahuannya tentang musik pun cenderung dipelajari secara otodidak. Kata kuncinya: yang penting mau melayani, itu sudah cukup!</p>
<p>*Padahal  semua unsur dalam  liturgi harus saling menopang. Karena itu pelayan musik tak boleh disepelekan. Lagu-lagu tertentu,  yang diyanyikan sebelum dan sesudah khotbah, misalnya, harus selaras dengan teks-teks Alkitab yang dipilih. Termasuk tema lagu paduan suara-paduan suara.   Bahkan paduan suara harus menjadi bagian dari jemaat, bukan kelompok eksklusif  yang menyanyi dengan fasih dan baik, yang ditonton oleh jemaat. Liturgi gereja adalah satu kesatuan yang utuh,  saling menopang dan bukan berjalan sendiri-sendiri.</p>
<p>*Baik Luther maupun Calvin, memandang nyanyian jemaat  penting demi pertumbuhan iman jemaat. Bagi Luther musik adalah ciptaan Tuhan dan itu adalah karunia Tuhan. Ia menghubungkan musik gereja dengan Pekabaran Injil: (1) Kabar Baik itu penuh dengan nyanyian dan permainan musik; (2) Iman dan percaya menghendaki  kita menyanyi; (3) Musik dapat membantu membangkitkan iman.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>*Nyanyian jemaat adalah ungkapan pujian, doa, ratapan, keluhan, tangisan, sukacita dan pengharapan jemaat kepada Allah.  Karena itu,  jemaat memainkan posisi dan peran  penting dalam ibadah. Tak ada peribadahan tanpa jemaat.  Dalam syair-syair nyanyian itu pula terkandung teologi atau ungkapan iman gereja. Nyanyian yang baik tidak menggiring jemaat  melarikan diri persoalan-persoalan  hidup mereka melainkan membawanya ke hadirat Allah.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p>* Biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan, kata pemazmur. Semua makhluk  hidup dipanggil untuk memuji Tuhan, ya  manusia, hewan-hewan di udara, di air dan di darat, tetumbuhan di semua lintasan benua,  maupun  spesies terkecil yang tak kasat mata! Hubungan  manusia dengan Tuhan ditandai puji-pujian sebagai ungkapan  harapan, permohonan, kegembiraan, atau dukacita.*</p>
<p>Rainy MP Hutabarat</p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>  Christina Mandang, MM, “Nyanyian Jemaat dalam Ibadah dalam Ibadah”,  dalam YAKOMA-PGI dan EED, Liturgi, Teologi dan Eklesiologi.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Ibid.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakomapgi.org/biarlah-segala-yang-bernafas-memuji-tuhan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DENGAN REBANA, GAMBUS, SULING DAN KECAPI</title>
		<link>http://yakomapgi.org/dengan-rebana-gambus-suling-dan-kecapi</link>
		<comments>http://yakomapgi.org/dengan-rebana-gambus-suling-dan-kecapi#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 04:40:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nuryana Aditya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Naskah Televisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakomapgi.org/?p=1415</guid>
		<description><![CDATA[(2)  * Dengan tingkat keragaman etnis yang mencapai seribuan suku, Indonesia dapat dikatakan sebagai salah satu keajaiban dunia di bidang instrumen musik etnis. Instrumen musik yang berbahan dasar bambu saja bisa mencapai sekitar 100 jenis  di seluruh tanah air. Satu di antaranya, angklung dari Jawa Barat telah diakui, UNESCO sebagai warisan dunia tak benda benda. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><br />
</strong></p>
<p align="center"><strong>(2)</strong></p>
<p> * Dengan tingkat keragaman etnis yang mencapai seribuan suku, Indonesia dapat dikatakan sebagai salah satu keajaiban dunia di bidang instrumen musik etnis. Instrumen musik yang berbahan dasar bambu saja bisa mencapai sekitar 100 jenis  di seluruh tanah air. Satu di antaranya, angklung dari Jawa Barat telah diakui, UNESCO sebagai warisan dunia tak benda benda.   Bayangkan, ini barulah instrumen musik berbahan dasar bambu. Belum yang lain-lainnya seperti sasando dari Timor atau  gamelan dari Jawa yang sudah mendunia.<span id="more-1415"></span></p>
<p>* Namun, sejarah gereja-gereja di Indonesia mencatat pernah terjadi penyingkiran terhadap semua instrumen musik etnis. Instrumen tersebut dipandang mengandung nilai-nilai agamaagama suku yang diberi label kafir.  Para penginjil dari Barat melihat ancaman terhadap Kekristenan tak semata dari kepercayaan dan ritus-ritus, tetapi juga instrumen musik. Organ, piano diperkenalkan seiring lagu-lagu ciptaan komponis Barat. Organ dan piano juga dipersepsikan sebagai lambang peradaban modern yakni peradaban Barat.</p>
<p>* Maka hingga kini, buku-buku lagu gereja yang diterbitkan oleh sinode gereja (Buku Ende HKBP) atau lembaga oikoumenis gerejawi seperti YAMUGER (Kidung Jemaat, PKJ, Mazmur dan Nyanyian Rohani), lebih banyak memuat lagu-lagu  gereja warisan  zending. Namun kita boleh bergembira karena buku-buku lagu gereja seperti Buku Ende, KJ, NKB, PKJ yang merupakan buku utama dalam peribadahan umat Kristen di tanah air, semakin mengadaptasi lagu-lagu daerah untuk dijadikan lagu-lagu ibadah. Banyak komponis daerah ikut mencipta lagu dengan syair-syair yang kontekstual. Misalnya, komponis Subronto K. Atmojo dengan lagu “Betapa Kita Tidak Bersyukur”.</p>
<p>* Perkembangan menggembirakan berlangsung belakangan ini melihat  gereja-gereja lokal mulai memiliki pemimpin kelompok paduan suara yang mampu mencipta lagu bercorak etnis. Para pemimpin paduan suara itu mencipta lagu-lagu untuk kelompoknya paduan suaranya dan saat tampil dalam ibadah dari kibor yang terdengar isntrumen musik etnis seperti seruling dan  gendang.  Lebih jauh, mereka  merekam dan menggandakannya untuk untuk penggalangan dana sehingga dapat disebarluaskan di gereja-gereja lain. Kita juga mencatat GKJ, misalnya, mulai menggunakan gamelan untuk mengiringi nyanyian ibadah. Kendati demikian, organ dan piano tetap dipandang sebagai instrumen  musik terpenting dan utama dalam peribadahan gereja. Sedangkan instrumen musik etnis, atau katakanlah kesenian daerah lebih ditempatkan dalam ibadah-ibadah perayaan gereja atau peresmian ini-itu. GKI juga telah menetapkan adanya ibadah bercorak etnis, misalnya Minggu Tionghoa, Minggu Batak, Minggu Jawa  dalam periode tertentu.</p>
<p>* Alkitab mencatat bahwa instrumen-instrumen musik dalam peribadahan di Israel Kuno adalah alat-alat musik lokal seperti gambus, kecapi, rebana, Suling dan gendang.  Umat Israel Kuno memuji Tuhan bukan dengan instrumen musik dan lagu-lagu yang “diimpor” melainkan dari kekayaan budaya lokal mereka sendiri. Tari-tarian pun  dipakai sebagai ungkapan puji-pujian kepada Tuhan (lih. Kel 15: 20-21 tentang Miryam yang memimpin kaum perempuan saat menyeberang Laut Taberau).</p>
<p>* Kontekstualisasi lagu-lagu ibadah ke dalam budaya modern jauh lebih cepat dibandingkan dengan budaya-budaya etnis. Di era globalisasi kita lebih terbiasa dengan apa yang disebut “modern” dan semakin terasing dengan instrumen musik atau lagu daerah  apalagi yang menggunakan bahasa daerah!  Di balik kontekstualisasi lagu ibadah ada 3 (tiga) hal penting penting terkait iman Kristen dan budaya-budaya lokal. Pertama, keanekaragaman kultural musik etnis. Kedua, keanekaragaman tersebut adalah karunia dan kehendak Allah sedangkan  keseragaman budaya bertentangan dengan kehendak  Allah.  Dr. Eben Haizer Nuban Timo, seorang teolog dari Timor, bahkan menyebut kontekstualisasi sebagai “sidik jari Allah dalam budaya”. Ketiga, berteologi atau katakanlah merumuskan iman Kristen melalui lagu-lagu bertolak  dari konteks pergulatan lokal. Lagu-lagu gereja yang kontekstual akan memampukan jemaat melihat persoalan dan kenyataan hidup mereka dalam terang iman.</p>
<p>Rainy MP Hutabarat, S.Th.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakomapgi.org/dengan-rebana-gambus-suling-dan-kecapi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pindah Jam Tayang</title>
		<link>http://yakomapgi.org/pindah-jam-tayang</link>
		<comments>http://yakomapgi.org/pindah-jam-tayang#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 03:13:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nuryana Aditya</dc:creator>
				<category><![CDATA[YAKOMA-PGI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakomapgi.org/?p=1393</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; &#160; &#160; &#160; Pemberitahuan: &#160; Terhitung mulai bulan Januari 2012, Mimbar Agama Kristen yang  ditayangkan oleh TVRI Nasional Jakarta setiap hari Sabtu jam 11.00 WIB mengalami pergeseran jam tayang menjadi setiap hari Minggu jam 8.30 WIB. &#160; &#160;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://yakomapgi.org/wp-content/uploads/2012/01/tv.jpeg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1394" title="tv" src="http://yakomapgi.org/wp-content/uploads/2012/01/tv-300x181.jpg" alt="" width="300" height="181" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pemberitahuan:</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>Terhitung mulai bulan Januari 2012, Mimbar Agama Kristen yang  ditayangkan oleh TVRI Nasional Jakarta setiap hari Sabtu jam 11.00 WIB mengalami pergeseran jam tayang menjadi setiap hari Minggu jam 8.30 WIB.</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakomapgi.org/pindah-jam-tayang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LOKAKARYA PENGUATAN  KAPASITAS  POKJA YAKOMA-PGI</title>
		<link>http://yakomapgi.org/workshop-penguatan-kapasitas-pokja-yakoma-pgi-3</link>
		<comments>http://yakomapgi.org/workshop-penguatan-kapasitas-pokja-yakoma-pgi-3#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 03:30:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nuryana Aditya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lokakarya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakomapgi.org/?p=1367</guid>
		<description><![CDATA[  Tema: KOMUNIKASI, MEDIA, PLURALISME &#38; BUDAYA DAMAI Wisma  YAKOMA-PGI, 1 – 5 NOVEMBER 2010 &#160; Penguatan Kapasitas POKJA-YAKOMA-PGI berlangsung tanggal 1-5 November 2010 di Balai Latihan YAKOMA-PGI, Jakarta-Pusat, diikuti 15 peserta mewakili 5 (lima) fokus wilayah kerja yakni Sumatra Utara, Batam, Tana-Toraja, Halmahera dan Bali. Lima fokus wilayah ini dipandang Toraja strategis untuk implementasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><br />
</strong></p>
<div id="attachment_1368" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://yakomapgi.org/wp-content/uploads/2011/12/aman.jpg"><img class="size-medium wp-image-1368" title="aman" src="http://yakomapgi.org/wp-content/uploads/2011/12/aman-300x181.jpg" alt="" width="300" height="181" /></a><p class="wp-caption-text">Peserta Worshop Penguatan Kapasitas POKJA YAKOMA-PGI</p></div>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>Tema: KOMUNIKASI, MEDIA, PLURALISME &amp; BUDAYA DAMAI</strong></p>
<p align="center"><strong>Wisma  YAKOMA-PGI, 1 – 5 NOVEMBER 2010</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penguatan Kapasitas POKJA-YAKOMA-PGI berlangsung tanggal 1-5 November 2010 di Balai Latihan YAKOMA-PGI, Jakarta-Pusat, diikuti 15 peserta mewakili 5 (lima) fokus wilayah kerja yakni Sumatra Utara, Batam, Tana-Toraja, Halmahera dan Bali. Lima fokus wilayah ini dipandang Toraja strategis untuk implementasi program kerja YAKOMA-PGI kerjasama dengan EED (2010-2012)<span id="more-1367"></span> dan kelimanya mewakili daerah pertanian (Tana  Toraja, Parapat), perkotaan (Batam), orang-orang muda terlantar (Singaraja) dan pulau bagian luar (Halmahera). Dengan mengangkat tema “Komunikasi, Media, Pluralisme dan Budaya Damai”,  Penguatan Kapasitas  Pokja ini mencoba memetakan isu-isu pokok strategis di kelima wilayah POKJA, merumuskan pemahaman bersama ihwal pluralisme dan budaya damai dalam media, merumuskan bersama-sama hubungan, tugas dan tanggung-jawab POKJA selaku mitra dan YAKOMA-PGI dan tindak-lanjut program POKJA di wilayah masing-masing. Dua fasiliator dan konsultan, Pieter Manoppo dan Esrom Aritonang,   memandu kegiatan penguatan POKJA ini dari awal hingga akhir.</p>
<p>Proses dan Alur Penguatan Pokja</p>
<p>Dibagi dalam 4 kategori meliputi:</p>
<ol>
<li>Orientasi pengalaman lapangan (perkenalan, harapan dan kekuatiran, peta masalah, merumuskan pemahaman)</li>
<li>Tahap ke II: Akademik ~ (a) Media dan Pluralisme dari Victor Silaen; (b) media perempuan dan pluralisme; (c)  eksposur ke Sekolah Perempuan Perdamaian-AMAN (<em>The Asian Muslim Action Network</em>), Loji-Bogor.</li>
</ol>
<p>3.  Desain Transformasi: Refleksi, Desain Penguatan Kapasitas POKJA</p>
<p>4.  Merumuskan Program Induk POKJA.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Rincian: </strong></p>
<ol start="1">
<li>Berbagi Harapan dan Memetakan Kekuatiran</li>
<li>Memetakan Masalah: Masalah Strategis Terkait Media dan Pluralisme di Wilayah Masing-masing</li>
<li>Membangun Pemahaman tentang Pluralisme dan Budaya Damai</li>
</ol>
<p>a)       Media dan Pluralisme</p>
<p>b)      Media, Perempuan dan Pluralisme</p>
<p>c)       Membedah Pluralisme dalam Media</p>
<ol start="4">
<li>Eskposure ke Sekolah Perempuan untuk Perdamaian – AMAN di Bogor.</li>
<li>Sharing hasil eksposure</li>
<li>Refleksi, Perumusan Visi, Misi POKJA</li>
<li>Analisa SWOT</li>
<li>Perumusan Isu Strategis dan Program termasuk Monitoring dan Evaluasi</li>
<li>Strategi Implementasi:  Perumusan Posisi, Jejaring POKJA, Gereja/Organisasi Berbasis Gereja</li>
<li>Program Induk</li>
<li>Pedoman Kerja POKJA untuk Pengembangan Media</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p>HARAPAN DAN KEKAWATIRAN</p>
<p>Harapan</p>
<ol>
<li>Jejaring dengan pokja, memperoleh pengetahuan media untuk membangun budaya damai, RTL yang SMRT.</li>
<li>Mendapat masukan yang baru untuk pengembangan ke depan.</li>
<li>Dapat beretika berkomunikasi dalam menghadapi plurlisme untuk membangun perdamaian</li>
<li>Optimalisasi peran pokja, jaringan kerja antara Pokja Yakoma, informasi baru</li>
<li>Pokja di bentuk di halmahera, pengetahuan menyangkut POKJA.</li>
<li>Diselenggarakan agar saat persepsi baik menyangkut pemahaman tentang prinsip pluralisme, budaya damai yang harus dan kerjasma.</li>
<li>Ada pembentukan pokja di Halmahera, saya semakin diperlengkapi</li>
<li>Agar saya bisa memanfaatkan media  untuk perdamaian?</li>
<li>Adanya tindak lanjut yang kontinyue di Pokja-Pokja</li>
<li>Harapannya mengikuti lokakarya ini adalah untuk nantinya bisa memahami, mengaplikasikan dan menerapkan kepada masyrakat tentang komunikasi dan media pluralisme serta pentingnya budaya damai setiap masyarakat agar natinya mampu menerapkan pada kehidupan berbangsa dan bernegara.</li>
<li>Bekerjasama dalam program komunikasi dan media yang menghargai keberagaman dan berjejaring.</li>
<li>Dapat pemahaman tentang pluralisme dan menerpkan dalam komunitas dan lingkungan sosial lainnya.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kekuatiran</p>
<ol>
<li>kurang komunikatif.</li>
<li>tidak ada implementasi di lapangan</li>
<li>implementasi tidak menyebar , tindak lanjut tidak ada.</li>
<li>tantangan dalam penerapannya sangat sulit mengakibatkan kejenuhan natinya. Akibatnya hanya dalam pikiran saja bukan dalam praktisnya.</li>
<li>tidak di respon pihak gerjeja (sinode) sehingga lokakarya tinggal kenangan dibenak kita.</li>
<li>jangan jadikan workshop ini sebagai ajang untuk perkenalan semata, tanpa membawa makna pulang.</li>
<li>tujuan kegiatan tercapai 50% kebawah, saya sepertinya sakit. Ilmu tentang media, komunikasi, budaya damai dan pluralisme hanya di dapat dipihak kristen, sementara non kristennya tidak. Usul: buat lokakarya yang antar agama.</li>
<li>tidak ada tindak lanjut. Jalan sendiri-sendiri.</li>
<li>tidak cukup modal untuk membiayai media. Kurang dukungan orang-orang dalam gereja</li>
<li>Menimbulkan ketersingungan.Tidak dapat berjalan dengan baik karena faktor lupa, malu dan dsb. Rasa takut tidak akan di tanggapi dengan baik.</li>
<li>hasil workshop tidak dilaksanakan di gereja. Tidak ada kerjasama antara POKJA dan Sinode/gereja.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kesimpulan:</p>
<p>1.        RTL ngak jelas, punya kesepakatan (isi didiskusikan) punya komitmen yang jelas, RTL jangan seperti workshop2 di tempat lain.</p>
<p>2.        Respon dari Sinode: ada yang kwatir POKJA ini tidak direspon oleh Sinode, Hasil kerja kita mendapat masukan sehingga bukan hasil sekelompok orang tapi karya</p>
<p>3.        Tidak ada implementasi lapangan,</p>
<p>4.        Kurang komunikasi: diharapkan di penyusunan ada etika komunikasi dan kelembagaan kedepan agar komunikasi lebih efektif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">Mandat Lokakarya Penguatan Kapasitas POKJA YAKOMA-PGI</p>
<p align="center">Tanggal 1-5 November 2010 di Balai Pelatihan YAKOMA-PGI Jakarta</p>
<p align="center">Tema: Komunikasi, Media, Pluralisme, dan Budaya Damai</p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>Tentang</strong></p>
<p align="center"><strong>PENGEMBANGAN KAPASITAS POKJA YAKOMA-PGI</strong></p>
<p align="center"><strong>SEBAGAI WAHANA KOMUNIKASI SERTA MEDIA</strong></p>
<p align="center"><strong>UNTUK MEMBANGUN PLURALISME DAN BUDAYA DAMAI</strong></p>
<p align="center"><strong>BERBASIS KOMUNITAS DI INDONESIA</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>I.        </strong><strong>LATAR BELAKANG</strong></li>
</ol>
<div>
<p><strong> </strong></p>
</div>
<p>1.1.   Lokakarya telah melewati serangkaian tahapan strategi belajar yang meliputi: a) <em>Tahap Orientasi Lapangan</em> atau belajar berbasis pengalaman peserta melalui pemetaan harapan dan kekuatiran peserta, serta pemetaan masalah kelompok dan komunitas di bidang komunikasi, media, pluralisme dan budaya damai, serta refleksi makna belajar peserta dan Pokja. b) <em>Tahap Orientasi Ilmiah</em> atau belajar berbasis kontribusi para narasumber oleh Dr.Victor Silaen (Yakoma-PGI) tentang Media dan Pluralisme; Dr. Siti Musdah Mulia (ICRP) tentang Media, Perempuan, dan Pluralisme; dan Eksposure Sekolah Perempuan Perdamaian AMAN di Bogor, c) <em>Tahap Studi Kasus dan Pemetaan Kinerja Media Massa</em> dalam perspektif Pluralisme dan Budaya Damai, serta d) <em>Tahap Penyusunan Kerangka Kerja, Panduan Operasional, dan Program Kerja Pokja Yakoma PGI Tahun 2011-2015. </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1.2.   Berdasarkan rangkaian proses lokakarya tersebut, peserta mencatat beberapa alasan yang melatar belakangi pentingnya menyusun sebuah KERANGKA KERJA atau CETAK-BIRU (BLUE-PRINT) POKJA YAKOMA-PGI sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Bahwa manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah sehingga pada dasarnya semua manusia berada dalam hubungan yang integral dan harmoni dengan Allah Pencipta, antar manusia, dan manusia dengan seluruh ciptaan yang mencerminkan makna ALLAH ITU BAIK UNTUK SEMUA ORANG. Atas dasar itu, manusia sebagai Citra Allah, bertanggung jawab mewujudkannya dalam membangunan tatanan hubungan dan komunikasi dalam kerangka pluralisme dan budaya damai.</li>
<li>Lokakarya menyadari bahwa dengan kemajemukan Indonesia dimaksudkan berkaitan dengan aspek kemajemukan tata ruang nusantara, tata sosial, dan tata budaya masyarakat, bangsa, dan negara secara utuh dan integral.</li>
<li>Bahwa komunikasi adalah sebuah wahana dan alat untuk membangun perdamaian, keadilan dan keutuhan ciptaan berperspektif pluralisme dan budaya damai dalam tatanan sosial masyarakat, tata ruang, tata budaya, dan tata media komunikasi yang majemuk untuk seluruh ciptaan.</li>
<li>Bahwa konflik dan kekerasan terjadi karena ketidakpahaman yang mendasar dan obyektif serta praksangka buruk di antara para pihak terhadap konfigurasi tata kemajemukan nilai-nilai, kesadaran, motivasi, sikap, perilaku, serta konteks sosial, tata ruang, tata budaya para pihak yang terlibat, baik pada level domestik keluarga, terutama masyarakat dan negara.</li>
<li>Bahwa mengelola sistem serta perilaku komunikasi dan media yang damai (<em>peace</em><em>-</em><em>bu</em><em>i</em><em>lding communication</em>) sangat besar peranannya dalam menciptakan, memelihara, dan melestarikan dinamika pluralisme dan budaya damai di Indonesia.</li>
<li>Bahwa pengelolaan komunikasi dan media berperspektif pluralisme dan budaya damai, tidak tercipta dengan sendirinya, tetapi harus dibangun dengan sadar dan sengaja serta bersama oleh para pihak yang terlibat.  Dalam konteks itu disadari bahwa semua agama dan kelompok etnis mengajarkan nilai-nilai luhur, kearifan dan tata budaya lokal yang berperspektif pluralisme dan budaya damai. Mengedepankan nilai, etika, dan budaya saling menghargai, saling membangun, dan saling menghidupkan.</li>
<li>Bahwa Indonesia sebagai negara berkekayaan kepulauan, masyarakat majemuk, dan Negara Keasatuan dengan kristalisasi budaya Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, terwujud sebagai rakhmat Tuhan Yang Mahakuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur seluruh rakyat, bangsa, dan tumpah darah Indonesia. Namun pada kenyataannya, dalam beberapa dekade terakhir ini, kesalahan mengelola kekayaan kemajemukan Indonesia tersebut telah bermuara pada intensitas eskalasi konflik, kekerasan, terorisme, ketidakadilan gender, kejahatan terhadap kemanusiaan, pelanggaran HAM, ketidakadilan sosial, dan berbagai dismanajemen kekayaan kemajemukan tata ruang, sosial dan budaya Indonesia. Disadari atau tidak, kondisi terakhir ini telah berakibat pada kecenderungan mengidentikan kelompok masyarakat tertentu dengan simbol dan perilaku konflik, kekerasan dan terorisme. Kondisi mana telah membenamkan dalam kolektif memori atau ingatan kolektif warga bangsa ini kondisi traumatis yang berpotensi melahirkan kebencian, konflik dan perpecahan masyarakat, bangsa, dan negara secara berkelanjutan. Khususnya pada wilayah-wilayah konflik, kekerasan, dan terorisme.</li>
<li>Bahwa kebijakan pengembangan tata ruang wilayah melalui beroperasinya perusahaan nasional dan multinasional, mobilitas demografi melalui proses urbanisasi dan atau transmigrasi dalam memperoleh akses sumberdaya alam dan ekonomi dan pengelolaannya, turut memperkeruh suasana kemajemukan sebagai akar konflik dan kekerasan sosial bernuansa agama, etnis dan kelas sosial dewasa ini.</li>
<li>Peserta menyadari sungguh bahwa lokakarya Penguatan Kapasitas Pokja YAKOMA-PGI yang diselenggarakan dari tanggal 1-5 November 2010 tersebut, tidak hanya merupakan wahana pelatihan serta pengembangan wawasan dan keterampilan berkaitan dengan Komunikasi, Media, Pluralisme dan Budaya Damai, tetapi lebih jauh merupakan proses sistematis dalam mereview, merekonstruksi dan menginternalisasi pola serta kapasitas komunikasi pluralisme dan budaya damai di kalangan peserta sendiri berlatar belakang pada aneka warisan kemajemukan yang dimilikinya.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>1.3.   Berdasarkan beberapa catatan reflektif latar belakang tersebut di atas, LOKAKARYA PENGUATAN KAPASITAS POKJA YAKOMA-PGI bersepakat menyusun KERANGKA KERJA ATAU CETAK BIRU PENGELOLAAN POKJA YAKOMA-PGI sebagai acuan kerja bersama.</p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>II.     </strong><strong>VISI, MISI, DAN TUJUAN</strong></li>
</ol>
<div>
<p><strong> </strong></p>
</div>
<p>2.1.   <strong>Visi </strong></p>
<p><strong>TERWUJUDNYA PENGELOLAAN KEKAYAAN KEMAJEMUKAN INDONESIA BERPERSPEKTIF PLURALISME DAN BUDAYA DAMAI DEMI KEBERLANGSUNGAN PERADABAN,  KEMANUSIAAN, DAN KEUTUHAN CIPTAAN MELALUI KINERJA POKJA YAKOMA-PGI SEBAGAI PUSAT INFORMASI, KOMUNIKASI, DAN TRANSFORMASI.       </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2.2.   <strong>Misi        </strong></p>
<ul>
<li>Membentuk pola pikir, kesadaran, sikap dan perilaku masyarakat berperspektif pluralisme dan budaya damai sebagai acuan dasar membangun perilaku dan budaya bhineka-tungal-ika.</li>
<li>Menggali, memberdayakan, dan mendayagunakan kekayaan media komunitas sebagai wahana membangun kapasitas pluralisme dan budaya damai.</li>
<li>Sosialisasi dan kampanye gagasan pembangunan peradaban dan kemanusiaan sebagai hakikat pluralisme dan budaya damai melalui aneka bentuk komunikasi dan media komunitas.</li>
<li>Membentuk sentra-sentra pembangunan pluralisme dan budaya damai berbasis kearifan, inisiatif dan kemandirian komunitas lokal demi tercapainya kedamaian, kesejahteraan dan keadilan bagi semua golongan.</li>
<li>Memberdayakan kapasitas masyarakat melalui aktivitas sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, dan keagamaan sebagai wahana dan iklim kondusif pluralisme dan budaya damai.</li>
<li>Memelihara perdamaian, keadilan dan keutuhan ciptaan melalui perningkatan komunikasi dan media yang transformatif ke arah perubahan sosial (pluralisme dan budaya damai).</li>
<li>Memfasilitasi penyelenggaraan kerja-kerja pendidikan, pelatihan, pemberdayaan, dialog, negosiasi, dan mediasi pluralisme dan budaya damai untuk menghasilkan kader dan fasilitator pembangunan peradaban, kemanusiaan, dan keutuhan ciptaan.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>2.3.   <strong>TUJUAN</strong><strong> </strong></p>
<ul>
<li>Tersedia peta potensi kemajemukan, konflik, dan kekerasan serta potensi pluralisme dan budaya damai di basis-basis kerja Pokja Yakoma-PGI.</li>
<li>Tersedianya model-model komunikasi dan media pengembangan pluralisme dan budaya damai berbasis komunitas dan kearifan lokal dalam mengelola aneka kemajemukan masyarakat.</li>
<li>Tersedia sumber daya manusia komunitas lokal yang berpengetahuan dan terampil dalam mengelola model serta teknik mengelola aneka kemajemukan masyarakat berperspektif pluralisme dan budaya damai.</li>
<li>Tersedia potensi media komunikasi pembangunan pluralisme dan budaya damai berbasis kearifan lokal dan kultural setempat.</li>
<li>Terbentuknya forum komunikasi dan basis-basis pengelolaan pluralisme dan budaya damai di wilayah kerja Pokja YAKOMA-PGI.</li>
<li>Terbentuk dan terorganisernya kelompok teater,  tari, riset, aksi sosial, dan pemberdayaan pluralisme dan budaya damai lintas agama, etnik, teritori, dan kelas sosial.</li>
<li>Terwujudnya cara pandang, kesadaran, sikap, dan perilaku komunitas lokal di wilayah kerja Pokja YAKOMA-PGI berperspektif pluralisme dan budaya damai sebagai suatu proses, prestasi, pengakuan, dan keterbukaan dalam realitas kemajemukan tata ruang, sosial, dan budaya Indonesia.</li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>III.   </strong><strong>ANALISIS LINGKUNGAN DAN ISU STRATEGIS</strong><strong></strong></li>
</ol>
<div>
<p><strong> </strong></p>
</div>
<p>3.1.      <strong>Lingkungan Internal</strong></p>
<table width="586" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="293">
<p align="center"><strong>Kekuatan</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="293">
<p align="center"><strong>Kelemahan</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="293">
<ul>
<li>Memiliki Kelompok sasaran yang jelas</li>
<li>Memiliki organisasi Pusbinlat motivator yang sudah dikenal baik oleh masyarakat</li>
<li>Ide-ide pluralisme sudah lama menjadi agenda organisasi Pusbinlat Motivator</li>
<li>Calon penulis yang pernah mengikuti latihan penulisan kerja sama YAKOMA-PGI.</li>
<li>Mativator tinggal bersama masyarakat sehingga memahami dengan baik situasi masyarakat lokal</li>
<li>Pusbinlat  telah mempunyai Pusat-pusat informasi (Sub Sentra) di setiap desa dampingan.</li>
<li>Tersedia sumber daya manusia berpengetahuan dan terampil untuk kerja-kerja pluralisme dan budaya damai</li>
<li>Tersedia fasilitas kantor atau sekretariat  internal dan bersama</li>
<li>Tersedia wilayah kerja yang strategis</li>
<li>Komunitas lokal memiliki potensi kearifan lokal dan kultural media pluralisme dan budaya damai.</li>
<li>Terorganiser kelompok kerja yang mengelola media komunikasi radio, buletin, teater, dan lain-lain.</li>
<li>Tersedia potensi keagamaan, etnis, dan sosial dalam mendukung kerja-kerja pembangunan pluralisme dan budaya damai.</li>
<li>Pimpinan daerah sebagai tokoh representasi adat bersemangat pluralisme dan budaya damai.</li>
<li>Masyarakat adat dengan aneka kekayaan kearifan lokal dan kultural.</li>
<li>Kekayaan tata ruang, sumber daya alam dan ekonomi sebagai item komunikasi dan media pembangunan pluralisme dan budaya damai.
<ul>
<li>Tersedia fasilitas pengembangan media cetak, elektronik, dan audio visual.</li>
<li>Memiliki pemahaman, kesadaran dan motivasi pluralisme serta budaya damai.</li>
<li>Kemampuan masyarakat untuk mengungkapkan pikiran dan pengalaman menggunakan bentuk-bentuk komunikasi dan media.</li>
<li>Keterbukaan gereja, kelompok agama,  etnis, dan sosial untuk menyikapi dan mengelola tantangan dismanajemen kemajemukan dan akibatnya terhadap konflik, kekerasan, dan berbagai bentuk terorisme dewasa ini.
<ul>
<li>Lemahnya budaya menulis dan membaca di kalangan masyarakat.</li>
<li>Belum terbentuk lembaga yang dapat menjadi wadah pergerakan</li>
<li>Belum dimiliki media cetak, elektronik, dan pendidikan.</li>
<li>Belum memiliki sumber daya manusia dan relawan terlatih di bidang administrasi dan operasional manajemen pluralisme dan budaya damai.</li>
<li>Belum memiliki kurikulum dan pengalaman mengelola pendidikan dan pelatihan berpespektif pluralisme dan budaya damai.</li>
<li>Belum tersedia dana yang relevan kerja-kerja membangun pluralisme dan budaya damai.</li>
<li>Rendahnya pemahaman, motivasi, sikap dan keterampilan membangunan pluralisme dan budaya damai.</li>
<li>Terbatasnya infrastruktur pendukung</li>
</ul>
</li>
</ul>
</li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="293"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>3.2.   <strong>Lingkungan Eksternal</strong></p>
<table width="586" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="293">
<p align="center"><strong>Peluang</strong></p>
</td>
<td valign="top" width="293">
<p align="center"><strong>Tantangan</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="293">
<ul>
<li>Tersedia media lokal</li>
<li>Penerbitan media komunikasi masyarakat</li>
<li>Masyarakat terbuka, masih berdialog, mendengar radio dan membaca.</li>
<li>Terbuka wilayah kerja</li>
<li>Tersedia dukungan kerjasama</li>
<li>Terbentuknya lembaga-lembaga atau paguyuban berperspektif pluralisme dan budaya damai.</li>
<li>Tersedia kekayaan budaya dan kearifan lokal model-model komunikasi serta media pluralisme dan budaya damai</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</td>
<td valign="top" width="293">
<ul>
<li>Komposisi masyarakat yang plural</li>
<li>Konten berita nasional dan lokal yang banyak bernuasa destruktif</li>
<li>Prejudice antara pemeluk agama dan etnik</li>
<li>Berbatasan dengan wilayah-wilayah konflik dan kekerasan sosial di Indonesia.</li>
<li>Masih terjadi bias jender dalam masyarakat</li>
<li>Bahaya laten konflik dan kekerasan sosial berpotensi menjadi konflik dan kekerasan terbuka.</li>
<li>Konflik dan kekerasan vertikal antara pemerintah dengan masyarakat lokal</li>
<li>Sistem kepartaian yang berwatak konflik kekerasan dan memperkeruh perilaku destruksi kemajemukan</li>
<li>Perda yang tidak kondusif mendorong pluralisme dan budaya damai.</li>
<li>Kinerja elemen birokrasi, penguasa, pengusaha, lembaga agama dan kelompok masyarakat tidak kondusif mendukung kerja-kerja membangun pluralisme dan budaya damai.</li>
<li>Warisan trauma psikososial konfli, kekerasan dan terotisme sebagai potensi destruksi berkelanjangan bagi kerja pluralisme dan budaya damai.</li>
<li>Indoktrinasi sementara pimpinan agama yang tidak kondusif terhadap kerja-kerja membangunan pluralisme dan budaya damai.</li>
<li>Munculnya kantong-kantong kemajemukan sebagai konsekuensi proses urbanisasi dan atau migrasi dan transmigrasi pada wilayah pertumbuhan sosial dan pembangunan.</li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>3.3. <strong>Is</strong><strong>u</strong><strong> Strategis</strong></p>
<ul>
<li>Indentifikasi, pemetaan, dan pengelolaan kemajemukan sebagai sumber warisan konflik kekerasan yang mengancam kinerja pluralisme dan budaya damai belum dikembangkan secara terpola dan sistematis lintas iman, etnis, sosial, teritori.</li>
<li>Warisan pola-pola pengelolaan kemajemukan yang berwatak konflik kekerasan masih bersifat emergensi atau darurat, reaktif, parsial, konvensional, dan sektoral (birokratis) seringkali mengabaikan perspektif korban dan gender serta kontribusi potensi masyarakat.</li>
<li>Perlunya mengidentifikasi, memetakan, memberdayakan, dan memfasilitasi model-model pengelolaan kemajemukan berperspektif pluralisme dan budaya damai berbasis komunitas, berperspektif korban dan gender dalam membangun peradaban,  kemanusiaan, dan integitas eko-sentris.</li>
<li>Perlunya mengembangkan kapasitas pranata sosial serta sumber daya dan kapitasl sosial masyarakat untuk pluralisme dan budaya damai.</li>
<li>Konsekuensi pembangunan terhadap perubahan tata ruang, tata sosial, tata budaya, dan tata berpikir masyarakat, berdampak terhadap semakin mengentalnya pola-pola dan kantong-kantong kemajemukan masyarakat, bangsa dan negara. Serta sumber potensi konflik dan kekerasan sosial di Indonesia. Khususnya pada sentra-sentra akses pengelolaan sumber daya alam, ekonomi, dan kekuasaan.</li>
<li>Maraknya pertumbuhan dan arogansi kelompok-kelompok destruktif konflik dan kekerasan, baik secara alamiah karena tekanan kemajemukan maupun karena dedesain sebagai alat negosiasi dan pemaksaaan kepentingan para pihak dalam realitas kemajemukan yang semakin meresahkan masyarakat secara masif.</li>
<li>Lemahnya kinerja penegakkan hukum dalam mengelola dampak dismanajemen kemajemukan terhadap berbagai bentuk ekspresi konflik dan kekerasan komunal di Indonesia. Hal mana semakin diperburuk dengan praktek pembiaran bertumbuh dan beroperasinya kelompok destruktit konflik dan kekerasan berbasis agama, etnis, dan latar belakang strata sosial sehingga menggeserkan otoritas penegakkan hukum dari negara kepada kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat.</li>
<li>Kebijakan publik belum secara terpola, sistematis dan tegas berorientasi pada penghargaan kekayaan kemajemukan tata ruang, sosial, budaya, dan perilaku masyarakat serta berbagai dampak konflik dan kekerasan yang diakibatkkannya.</li>
<li>Lemahnya sistem koordinasi dan sinkronisasi manajemen kemajemukan dan dampak destruktif yang ditimbulkannya berperspektif pluralisme dan budaya damai pada seluruh tingkatan manajemen pemerintahan dan pembangunan.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>IV.     </strong><strong>GARIS BESAR PROGRAM KERJA TAHUN 2011-2015. </strong><strong></strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Mengemas dan menyebarluaskan informasi  yang berperspektif pluralisme dan budaya damai di tengah-tengah masyarakat yang pluralis</li>
<li>Membuat media komunikasi yang relevan dan aplikatif di desa-desa</li>
<li>Meningkatkan kapasitas pokja dalam bidang media dan komunikasi</li>
<li>Menggalang partisipasi masyarakat untuk membangun sebuah media komunikasi serta melakukan pendampingan dan penguatan kapasitas masyarakat.</li>
<li>Mengembangkan jejaring kerjasama dengan berbagai lembaga untuk mengembangkan komunikasi lintas agama, etnis, dan golongan melalui insiasi dan fasilitasi Pokja YAKOMA-PGI.</li>
<li>Riset tentang pluralisme dan budaya damai di wilayah kerja Pokja YAKOMA-PGI.</li>
<li>Membuat film dokumenter tentang model-model kearifan lokal dan kultual pembangunan pluralisme dan budaya damai di wilayah kerja Pokja Yakoma-PGI.</li>
<li>Mengembangkan kerja-kerja sosial, ekonomi, keagamaan dan etnis sebagai wahana membangunan pluralisme dan budaya damai: home-industry, usaha pertanian, perikanan, dll.</li>
<li>Pelatihan jurnalistik dan advokasi untuk membangun pluralisme dan budaya damai.</li>
<li>Pengadaan lembaga pendidikan pluralisme dan budaya damai (misalnya seperti Sekolah Komunitas Pelangi di Bali).</li>
<li>Penguatan Pokja atau Staf melalui kegiatan: lokakarya, pendidikan dan pelatihan berbasis komunitas.</li>
<li>Penyusunan kurikulum, manual dan berbagai panduan praktis mengelola kemajemukan berperspektif pluralisme dan budaya damai demi peradaban, kemanusiaan, dan keutuhan ciptaan.</li>
<li>Penerbitan buletin, newsletter, dan sebagainya</li>
<li>Pelatihan keterampilan menyusun dan memasarkan gagasan melalui proposal proporsional dalam mendukung operasionalisasi kerja-kerja membangunan pluralisme dan budaya damai.</li>
<li>Pengorganisasian, pemberdayaan, dan penguatan kapasitas komunitas basis.</li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>V.       </strong><strong>STRATEGI IMPLEMENTASI</strong><strong></strong></li>
</ol>
<div>
<p>&nbsp;</p>
</div>
<p>5.1. Menyusun rencana dan langkah-langkah kerja secara sistematis</p>
<p>5.2. Memetakan masalah dan menetapkan skala prioritas sesuai sejarah, peta jalan, dan kluster pluralisme dan dampaknya</p>
<p>5.3. Melakukan koordinasi, negosiasi dan advokasi kepada pihak pemerintah dan elit gereja dan agama.</p>
<p>5.4. Mengorganiser dan memberdayakan kapasitas komunitas lokal</p>
<p>5.5. Melaksanakan dan mengontrol pelaksanaan</p>
<p>5.6. Menerbitkan media pemberdayaan pluralisme dan budaya damai</p>
<p>5.7. Melakukan capacity-building dan pendampingan</p>
<p>5.8. Kampanye tentang mengelola potensi kemajemukan dalam perspektif pluralisme dan budaya damai.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>VI.     </strong><strong>MONITORING DAN EVALUASI</strong></li>
</ol>
<div>
<p>6.1. <strong>Monitoring</strong></p>
</div>
<ul>
<li>Monitoring jangka menengah (semester dan kwartal) untuk berbagai aktivitas Pokja YAKOMA-PGI.</li>
<li>Dilakukan setiap kegiatan</li>
<li>Melakukan studi sebelum dan sesudah pelaksanaan program</li>
</ul>
<p>6.2. <strong>Evaluasi </strong></p>
<ul>
<li>Setiap kegiatan dan berkala</li>
<li>Melakukan evaluasi FASILITASI BELAJAR SOSIAL berbasis komunitas/peserta</li>
<li>Melakukan wawancara dengan para stakeholders terkait</li>
</ul>
<p>JAKARTA, 4 NOVEMBVER 2010.</p>
<p><strong>PESERTA LOKAKARYA PENGUATAN KAPASITAS POKJA YAKOMA-PGI TAHUN 2010</strong></p>
<p><strong>TEMA: ”KOMUNIKASI, MEDIA, PLURALISME DAN BUDAYA DAMAI”</strong></p>
<p><strong>Balai Pelatihan YAKOMA-PGI, 1-5 November 2010</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>1.       </strong><strong>YAKOMA-PGI</strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Drs. Sylvester Proklamanto Magany                ……………</li>
<li>Ir. Irma Riana Simanjuntak, M.Si.                                                  &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</li>
<li>Rainy Hutabarat, S.Th.                                                                                                   &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</li>
<li>Dra. Debbie Sondakh                                             &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</li>
<li>Melati Rumahorbo                                                                              &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</li>
<li>Nuryana                                                                                                                               &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</li>
<li>Sukarji                                                                          &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</li>
<li>Yuliana Lapaan                                                                                      &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>2.       </strong><strong>POKJA YAKOMA-PGI WILAYAH HALMAHERA</strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Pdt. Williams Ruddy Tindage, M.Teol.                             ……………</li>
<li>Pdt. Selvia E. Lasano, S.Th.                                                                           &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</li>
<li>Pdt. Grace Morene Rubawange, S.Si.                                                                                 ………&#8230;&#8230;.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>3.       </strong><strong>POKJA YAKOMA-PGI WILAYAH TORAJA                                                                                            </strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Ir. Tandu Ramba                                                                       ……………</li>
<li>Agustina Rumissing, A.Md.                                                                          ……………</li>
<li>Ballorimpa                                                                                                                                       …………….</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>4.       </strong><strong>POKJA YAKOMA-PGI WILAYAH BALI</strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Pdt. I Nyoman Yohanes, M.Th.                                          …………….</li>
<li>Putu Cahyadi                                                                                                     …………..</li>
<li>Petrus Ndolu                                                                                                                                 ……………</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>5.       </strong><strong>POKJA YAKOMA-PGI WILAYAH BATAM</strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Pdt. Rudi Sembiring Meliala, S.Th.                                    …………….</li>
<li>Surani Sihombing                                                                                             ……………</li>
<li>Setia Putra Tarigan, ST                                                                                                               ……………</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>6.       </strong><strong>POKJA YAKOMA-PGI WILAYAH SUMATERA UTARA</strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Pdt. Arthur Lumbantobing, S.Th.                                       …………….</li>
<li>Anggiat Sinaga, S.S.                                                                                         ……………</li>
<li>Tumpak Winmark Hutabarat                                                                                                   …………….</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li><strong>7.       </strong><strong>FASILITATOR LOKAKARYA</strong></li>
</ol>
<ul>
<li>Pieter George Manoppo, S.Si, S.IP, M.Psi.                            &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</li>
<li>Esrom Aritonang, S.S, M.Si.                                                                                             &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakomapgi.org/workshop-penguatan-kapasitas-pokja-yakoma-pgi-3/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelatihan Jurnalistik</title>
		<link>http://yakomapgi.org/pelatihan-jurnalistik</link>
		<comments>http://yakomapgi.org/pelatihan-jurnalistik#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 04:38:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nuryana Aditya</dc:creator>
				<category><![CDATA[YAKOMA-PGI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakomapgi.org/?p=1337</guid>
		<description><![CDATA[Pekerja sosial/komunitas memerlukan  pengetahuan dan keterampilan pendokumentasian yang baik melalui berbagai bentuk tulisan. Dalam kegiatan penguatan dan pendampingan masyarakat, pendokumentasian merupakan bagian dari kerja-kerja aktualisasi aspirasi komunitas, pengelolaan informasi dan  pengetahuan lokal, dan perubahan sosial yang sedang dan telah terjadi di tengah-tengah komunitas.   Pendokumentasian juga merupakan kerja membuka ruang publik bagi komunitas lokal. Apa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1338" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://yakomapgi.org/wp-content/uploads/2011/12/foto-sdkalang-1.jpg"><img class="size-medium wp-image-1338" title="Sidikalang, 26 Sept - 01 Okt 2011" src="http://yakomapgi.org/wp-content/uploads/2011/12/foto-sdkalang-1-300x109.jpg" alt="" width="300" height="109" /></a><p class="wp-caption-text">Foto Bersama Peserta Pelatihan &quot;JURNALISTIK INVESTIGASI&quot;</p></div>
<p>Pekerja sosial/komunitas memerlukan  pengetahuan dan keterampilan pendokumentasian yang baik melalui berbagai bentuk tulisan. Dalam kegiatan penguatan dan pendampingan masyarakat, pendokumentasian merupakan bagian dari kerja-kerja aktualisasi aspirasi komunitas, pengelolaan informasi dan  pengetahuan lokal, dan perubahan sosial yang sedang dan telah terjadi di tengah-tengah komunitas.   Pendokumentasian juga merupakan kerja membuka ruang publik bagi komunitas lokal.<span id="more-1337"></span></p>
<p>Apa yang disebut pendukumentasian di sini adalah penciptaan media komunitas untuk tujuan penguatan komunitas dampingan. Media yang digunakan bisa bermacam-macam, antara lain media cetak komunitas, buletin 4 halaman dan majalah dinding.</p>
<p>Pelatihan Jurnalistik kerjasama YAKOMA-PGI dengan POKJA GARTIP dan PETRASA diselenggarakan pada 26 September – 1 Oktober 2011  di Sidikalang, Sumatra Utara. Diikuti 17 pekerja komunikasi dan media komunitas  dari jemaat GKPI-Siantar, GBKP, HKI, GKPA,  GKPS dan ornop KSPPM, pelatihan ini dipandu oleh P. Hasudungan Sirait dibantu oleh Tumpak Winmark Hutabarat.</p>
<p>Selain dibekali pengetahuan dan keterampilan menulis jurnalistik, para peserta juga praktik observasi dan wawancara di Pasar Sidikalang, Taman Wisata Iman dan Tao Silalahi. Hasil-hasil observasi kemudian ditulis dalam bentuk berita, berita kisah, opini dan berita foto.</p>
<p>Para peserta sepakat membentuk milis bersama bernama Tikka Panggurit dan <em>facebook</em>. <em>Tikka</em> adalah nama lokasi pelatihan sedangkan <em>panggurit</em> (bahasa Batak) berarti penulisan. **</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Banyak  persoalan yang dihadapi  oleh masyarakat mengharuskan pekerja sosial/komunitas mampu mendokumentasikannya melalui tulisan. Pendokumentasian yang baik  seturut standar jurnalistik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakomapgi.org/pelatihan-jurnalistik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PELATIHAN PERENCANAAN PRODUKSI PROGRAM TELEVISI</title>
		<link>http://yakomapgi.org/pelatihan-perencanaan-produksi-program-televisi-2</link>
		<comments>http://yakomapgi.org/pelatihan-perencanaan-produksi-program-televisi-2#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 03:51:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nuryana Aditya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lokakarya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakomapgi.org/?p=1335</guid>
		<description><![CDATA[Sejak Oktober 2008, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia  (PGI) mendapat kesempatan untuk  memproduksi program televisi melalui salah satu stasiun televisi nasional di Indonesia (TVRI). Program ini bertujuan untuk mengabarkan kabar baik bagi semua orang. Penayangannya dilakukan sekali dalam seminggu dan mendapat respon yang cukup baik dari pemirsa di seluruh Indonesia (berdasarkan hasil SMS yang masuk). Seiring [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak Oktober 2008, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia  (PGI) mendapat kesempatan untuk  memproduksi program televisi melalui salah satu stasiun televisi nasional di Indonesia (TVRI). Program ini bertujuan untuk mengabarkan kabar baik bagi semua orang. Penayangannya dilakukan sekali dalam seminggu dan mendapat respon yang cukup baik dari pemirsa di seluruh Indonesia (berdasarkan hasil SMS yang masuk).<span id="more-1335"></span></p>
<p>Seiring dengan perjalanan waktu, sejak tahun 1989 pemerintah memberikan kesempat-an bagi stasiun televisi swasta untuk beroperasi. Hal ini berarti bahwa TVRI bukanlah satu-satunya stasiun televisi di Indonesia (TVRI berdiri sejak tahun 1962 silam). Undang-undang No.32 tahun 2002 tentang penyiaran, pemerintah memberikan peluang dalam pendirian stasiun televisi lokal di mana untuk siaran nasional harus melakukan siaran berjaringan antar beberapa stasiun televisi lokal. Hingga saat ini tercatat 11 stasiun televisi nasional dan 152 televisi lokal dan juga beberapa TV kabel (berlangganan).</p>
<p>Selain tantangan di atas, tantangan yang lain adalah munculnya berbagai  program televisi Kristen yang diproduksi oleh berbagai pihak baik di dalam maupun luar negeri. Warna yang ditampilkan juga sangat beragam mulai dari penyembuhan, keselamatan, persoalan rumah tangga, permasalahan anak muda yang tujuannya adalah menjangkau jiwa-jiwa agar lebih mengenal Kristus. Kehadiran program televisi yang berkualitas baik dari segi teknis, format maupun konten yang ditampilkan menjadi sangat penting untuk menarik perhatian pemirsa televisi terutama di tengah-tengah masyarakat yang plural dan demokratis di Indonesia.</p>
<p>Sejak PGI memproduksi programnya, berbagai perubahan format dan strategi komunikasi  telah dilakukan agar program ini bisa diterima dan dinikmati oleh semua orang. Dari format khotbah, talkshow, feature (profil pelayanan) yang diiringi oleh berbagai Paduan Suara telah diproduksi. Tentu saja dengan berbagai tantangan di atas, PGI harus senantiasa berbenah diri untuk menampilkan produksi yang lebih menarik,  dan dapat diterima oleh semua orang. Diperlukan suatu kegiatan untuk merencanakan produksi berdasarkan visi dan misi, kondisi real Indonesia agar ditemukan format yang sesuai dengan kebutuhan pemirsa sehingga bisa menjangkau semua orang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakomapgi.org/pelatihan-perencanaan-produksi-program-televisi-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENGORGANISASIAN, KOMUNIKASI DAN PENGUATAN EKONOMI JEMAAT</title>
		<link>http://yakomapgi.org/pengorganisasian-komunikasi-dan-penguatan-ekonomi-jemaat</link>
		<comments>http://yakomapgi.org/pengorganisasian-komunikasi-dan-penguatan-ekonomi-jemaat#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 03:47:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nuryana Aditya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lokakarya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakomapgi.org/?p=1333</guid>
		<description><![CDATA[“Kehadiran gereja di dunia khususnya di Maluku Utara adalah untuk menyatakan syalom Allah. Wujud dari syalom di antaranya kesejahteraan warga gereja dan warga masyarakat. Dalam menyatakan syalom Allah, maka gereja harus melakukan  sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat luas,” kata Pdt. Anton Piga, M.Sc., Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH), dalam pembukaan Lokakarya Pengorganisasian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><br />
</strong></p>
<p>“Kehadiran gereja di dunia khususnya di Maluku Utara adalah untuk menyatakan syalom Allah. Wujud dari syalom di antaranya kesejahteraan warga gereja dan warga masyarakat. Dalam menyatakan syalom Allah, maka gereja harus melakukan  sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat luas,” kata Pdt. Anton Piga, M.Sc., Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH), dalam pembukaan Lokakarya Pengorganisasian dan Komunikasi untuk Penguatan Ekonomi Jemaat kerjasama antara YAKOMA-PGI dan Badan Usaha Milik Gereja &#8211; GMIH  tanggal 22-24 Agustus 2011 di Jemaat Tiga Saudara, Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat. “GMIH memiliki misi pemberdayaan. Dalam konteks bergereja ada 5 pilar yang diberdayakan, yaitu pembersayaan potensi sumber daya teologi, memberdayakan sumber daya manusia, memberdayakan sumber daya ekonomi dan lingkungan hidup, memberdayakan potensi organisasi dan memberdayakan potensi informasi dan komunikasi,” kata Pdt. Piga. Sebanyak 100 peserta terdiri dari warga jemaat GMIH ikut ambil bagian dalam Lokakarya ini.<span id="more-1333"></span> <strong></strong></p>
<p>Fence Maluere, Kepala Dinas Pencatatan Sipil Maluku Utara, mewakili Bupati Halmahera Barat mengakui bahwa sudah banyak anggaran pemerintah yang dikucurkan untuk pemberdayaan ekonomi namun belum mampu meningkatkan  kehidupan ekonomi masyarakat pada kelas yang paling bawah. Ia berharap Gereja sebagai mitra kerja pemerintah melalui lokakarya ini dapat melakukan pendampingan, membuat rencana aksi demi memperbaiki tatanan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat yang di dalamnya termasuk warga gereja.</p>
<p>Materi Lokakarya meliputi <em>Analisa Sosial dan Komunikasi untuk Memperkuat Ekonomi Jemaat</em> (Esrom Aritonang, M.Si), <em>Rencana Strategis Pengembangan Badan Usaha Milik Gereja-GMIH</em> (Pdt. Ruddy Tindage), <em>Pertanian Ramah lingkungan Pertanian Ramah Lingkungan</em> (Dr. Ir. Edy Papilaya), <em>Rencana Strategis Pemerintah Daerah dalam Pengembangan Pertanian </em> oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Halmahera Barat.**<strong></strong></p>
<p><strong>                                                                                        </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakomapgi.org/pengorganisasian-komunikasi-dan-penguatan-ekonomi-jemaat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RADIO UNTUK PERDAMAIAN</title>
		<link>http://yakomapgi.org/radio-untuk-perdamaian</link>
		<comments>http://yakomapgi.org/radio-untuk-perdamaian#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Dec 2011 03:19:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nuryana Aditya</dc:creator>
				<category><![CDATA[YAKOMA-PGI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakomapgi.org/?p=1321</guid>
		<description><![CDATA[  Radio adalah media yang menggunakan suara dalam penyampaian informasi, bersifat langsung dan seketika. Karena itu, dibandingkan dengan media cetak, informasi yang disampaikan melalui radio lebih cepat tersebar di tengah-tengah masyarakat, dan dapat terus diperbarui.  Karena sifatnya audio (suara), maka radio juga lebih mampu mendorong pendengar untuk  mengembangkan imajinasinya sendiri.   Melalui komentarnya yang mengebu-gebu dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<div id="attachment_1322" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://yakomapgi.org/wp-content/uploads/2011/12/Beatrice-dkk-bersiaran-1.jpg"><img class="size-medium wp-image-1322" title="POKJA Hibualamo Halmaher Sedang Siaran Radio di Komunitas" src="http://yakomapgi.org/wp-content/uploads/2011/12/Beatrice-dkk-bersiaran-1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">POKJA Hibualamo Halmaher Sedang Siaran Radio di Komunitas</p></div>
<p style="text-align: justify;" align="center">Radio adalah media yang menggunakan suara dalam penyampaian informasi, bersifat langsung dan seketika. Karena itu, dibandingkan dengan media cetak, informasi yang disampaikan melalui radio lebih cepat tersebar di tengah-tengah masyarakat, dan dapat terus diperbarui.  Karena sifatnya audio (suara), maka radio juga lebih mampu mendorong pendengar untuk  mengembangkan imajinasinya sendiri.   Melalui komentarnya yang mengebu-gebu dengan artikulasi dan intonasi yang tepat, misalnya, seorang komentator sepakbola dapat membawa pendengar seolah-olah berada di stadion dan menonton langsung pertandingan tersebut.<span id="more-1321"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Untuk wilayah yang relatif terpencil dan infrastruktur serta sarana transportasi  buruk, radio  merupakan media yang cocok untuk dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan informasi  komunitas-komunitas lokal.   Biayanya peralatan dan pengelolaannya juga relatif lebih murah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bertolak dari kebutuhan tersebut, YAKOMA-PGI bekerjasama dengan Badan Usaha Milik Gereja – Gereja Masehi Injili di Halmahera (BUMG-GMIH)  menyelenggarakan Lokakarya Radio untuk Perdamaian tanggal 26-28 Agustus 2011 di Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Utara. Lokakarya ini diorganisir oleh POKJA Hibualamo, didukung oleh 2 (dua) radio lokal untuk praktik siaran bagi peserta yakni <strong>Radio Syalom </strong>dan<strong> Radio Suara Paksi Buana, </strong>dan diikuti 34 peserta (… perempuan dan …. laki-laki) penyiar radio lokal, penyiar radio pemula, dan mahasiswa. Sebagai wilayah yang pernah mengalami konflik sosial bersenjata di wilayah Duma-Galela tahun 1999-2000, GMIH bersama pemerintah daerah setempat terus berupaya memupuk budaya damai dan mengikis  potensi-potensi konflik sosial di Halmahera melalui penyelenggaraan   media yang berperspektif perdamaian, khususnya radio.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Perspektif Perdamaian</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>I</strong>tulah  sebabnya Lokakarya Radio ini menggunakan perspektif perdamaian. Halmahera adalah bekas wilayah konflik sosial. Topik perdamaian menjadi pokok perbincangan di awal Lokakarya. Apakah perdamaian itu? Apa kaitannya dengan  pluralisme yang menjadi syarat terciptanya perdamaian yang sejati dan berkelanjutan?</p>
<p style="text-align: justify;">Dari hasil diskusi,  para peserta memahami pluralisme  sebagai:  (1) Interaksi sosial antarkelompok dalam suatu masyarakat; (2)  Menghormati keanekaragaman dan perbedaan  dalam masyarakat; (3) Mengembangkan hidup berdampingan dan berinteraksi yang dilakukan tanpa adanya keinginan untuk berkonflik. Setiap konflik atau benturan terjadi dapat diatasi dengan berdialog dan berupaya  menemukan solusi tanpa kekerasan serta  membangun kehidupan yang harmonis.  Dalam konteks ini, salah satu sarana untuk mengembangkan dialog adalah melalui  radio.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tahap selanjutnya, peserta diajak untuk mengenal  perkembangan radio saat ini, yaitu radio dengan stasiun pemancar (radio konvensional) dan radio internet (<em>radio streaming</em>) dan bagaimana pembuatan <em>radio streaming</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Perbedaan antara dua radio adalah :</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="169"></td>
<td width="192">
<p align="center"><strong>Radio Konvensional</strong></p>
</td>
<td width="229">
<p align="center"><strong>Radio Streaming</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="169">Jangkauan</td>
<td valign="top" width="192">Terbatas – tergantung daya pemancar</td>
<td valign="top" width="229">Tidak terbatas – dapat menjangkau dunia</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="169">Investasi</td>
<td valign="top" width="192">TInggi</td>
<td valign="top" width="229">Rendah</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="169">Perijinan</td>
<td valign="top" width="192">Memerlukan izin</td>
<td valign="top" width="229">Tidak perlu izin</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mengapa  Analisa Sosial?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Analisa sosial dipergunakan sebagai satu alat untuk memperjuangkan tujuan tertentu. Metode analisa sosial ini dipergunakan untuk menganalisa masalah sosial misalnya kemiskinan, pendidikan, lembaga sosial seperti sekolah, proyek pembangunan dan lain-lain. Untuk melakukan analisa sosial, para pihak yang berkepentingan menentukan dan memilih sasaran analisa, mengumpulkan fakta dan data  dan membuat deskripsi masalah yang lebih jelas. Deskripsi masalah tersebut dapat dikelompokkan ke dalam 3 soal  dalam kehidupan masyarakat, misalnya sosial budaya, ekonomi dan politik. Dari pengelompokan tersebut, dapat dianalisa secara mendalam dan menjadi bahan untuk menemukan kesimpulan tentang apa yang bisa dikerjakan secara perorangan atau per  kelompok.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah mendapat penjelasan tentang analisa sosial, peserta dibagi ke dalam kelompok dan melakukan analisa sosial tentang masalah-masalah  sosial kemasyarakatan yang muncul di Halmahera Utara. Hasil analisa sosial ini akan menjadi bahan penyusunan materi siaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya peserta diperkenalkan dengan prinsip dasar penyiaran radio yaitu,</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Interaksi penyiar radio dengan pendengar hanya dengan suara. Karena itu  informasi yang disampaikan dengan konsep menyuarakan (bertutur). Penyusunan informasi  juga dilakukan dengan dengan konsep bertutur dan bukan  konsep membaca</li>
<li>Radio bersifat  sekali dengar, sehingga informasi yang disampaikan harus bersifat jelas, sederhana, dan akurat. Dalam sekali ucap harus dapat dimengerti oleh pendengar dan tidak menimbulkan salah persepsi.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>Menyusun Materi Siaran dalam Kelompok</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hasil-hasil analisa sosial oleh kelompok-kelompok dijadikan bahan untuk penyusunan materi siaran. Dibagi dalam 5 (lima) kelompok, para peserta coba menyusun materi siaran dan mempresentasikannya untuk ditanggapi oleh para peserta yang lain.  Masukan-masukan dari rekan-rekan peserta dan fasilitator digunakan untuk menyempurnakan materi siaran yang telah disusun  oleh kelompok-kelompok. Inilah yang dijadikan bahan siaran secara bergiliran di dua stasiun radio yaitu Radio Syalom dan Radio Suara Paksi Buana. Praktik siaran didampingi oleh penyiar dan operator teknis  kedua stasiun radio tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Rencana tindak lanjut dari lokakarya ini adalah melakukan  siaran rutin di kedua stasiun radio tersebut. Fasilitator dalam lokakarya ini antara lain Ir. Kris Hidayat (Format Radio dan Teknik Pembuatan Materi Siaran) dan Esrom Aritonang, Msi (Analisis Sosial).**</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakomapgi.org/radio-untuk-perdamaian/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“HIDUP BERSAMA DALAM KRISTUS, DIPERKUAT OLEH ROH KUDUS”</title>
		<link>http://yakomapgi.org/%e2%80%9chidup-bersama-dalam-kristus-diperkuat-oleh-roh-kudus%e2%80%9d</link>
		<comments>http://yakomapgi.org/%e2%80%9chidup-bersama-dalam-kristus-diperkuat-oleh-roh-kudus%e2%80%9d#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 04:19:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nuryana Aditya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Naskah Televisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakomapgi.org/?p=1319</guid>
		<description><![CDATA[Judul ini dapat disorot dari 2 aspek namun saling bertautan: (1) Hidup bersama dalam Kristus;   (2) Diperkuat oleh Roh Kudus.  (1)   Hidup Bersama dalam Kristus. Hidup bersama berarti mempersekutukan diri bersama orang-orang lain  sebagai komunitas (community).   Dalam ungkapan Kristiani “hidup bersama dalam Kristus” adalah: Persekutuan atau koinonia dari orang-orang seiman. Persekutuan sebagai entitas bisa berskala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Judul ini dapat disorot dari 2 aspek namun saling bertautan: (1) Hidup bersama dalam Kristus;   (2) Diperkuat oleh Roh Kudus.</strong></p>
<p><strong> </strong>(1)   <strong>Hidup Bersama dalam Kristus.</strong></p>
<p>Hidup bersama berarti mempersekutukan diri<strong> </strong>bersama orang-orang lain<strong>  </strong>sebagai komunitas (<em>community</em>).   Dalam ungkapan Kristiani “hidup bersama dalam Kristus” adalah: Persekutuan atau koinonia dari orang-orang seiman. Persekutuan sebagai entitas bisa berskala kecil, sedang, luas, atau skala lokal, regional, nasional dan global. Persekutuan sebagai entitas hidup bersama untuk skala kecil adalah keluarga batih dan keluarga besar. Untuk skala lokal adalah jemaat-jemaat. Menyusul tingkat distrik, kota, regional, nasional dan seterusnya. Tentu saja, untuk hidup bersama pada tiap tingkatan memiliki tantangan-tantangannya sendiri.<span id="more-1319"></span></p>
<p>Persekutuan sebagai hidup bersama mengandaikan adanya hubungan-hubungan sosial di antara anggota-anggotanya, interaksi-interaksi, perjumpaan-perjumpaan,  kerjasama dan misi bersama. Itulah wujud oikoumene.  Persekutuan juga mengandaikan adanya keanekaragaman-perbedaan baik dari segi identitas sosial (agama, suku, bangsa, ras, jenis kelamin, usia) maupun kedudukan dan status sosial ekonomi (kaya-miskin, berpendidikan tinggi-berpendidikan rendah, menikah-tidak menikah/selibat, dan seterusnya). Juga perbedaan pikiran, keterampilan, minat dan talenta. Dalam konteks gerejawi, keanekaragaman-perbedaan meliputi aspek teologi, tradisi, dan ritual-ritualnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Karena itu, “hidup bersama dalam Kristus” bukan hanya semata persoalan pertanyaan  teologis melainkan juga moral dan etika. Karenanya pula, ia  bukanlah suatu kondisi yang <em>given</em> (terberi) melainkan kondisi pencapaian visi dan misi yang mesti diupayakan, dilakukan, dikerjakan, diperjuangkan, dicapai atau diwujudkan terus-menerus. Kita pun tahu “hidup bersama dalam Kristus” mengandaikan tegaknya syalom Allah. Hidup yang  berkeadilan, non-kekerasan termasuk kekerasan terhadap alam dan damai. Aspek moral dan etika dari persekutuan dalam Kristus itu mewajibkan bahwa syalom Allah juga ditujukan kepada semua orang tanpa memandang identitas sosialnya (agama, suku, bangsa, ras, dstnya). Itulah hidup <strong>persekutuan yang misioner</strong>:   Tidak  melulu terarah kepada “kalangan sendiri” melainkan sekaligus kepada dunia dengan segala persoalan dan tantangannya untuk menjadikannya sebagai “oikoumene” (bumi sebagai hunian bersama!) yang lebih manusiawi, lebih bermartabat. <strong></strong></p>
<p>Secara teologis dan sederhana, hidup bersama dalam Kristus  dapat diartikan persekutuan (<em>koinonia</em>) dalam berbagai konteks kehidupan (desa, kota, wilayah, regional, nasional dan global) yang digerakkan  oleh iman  kepada Kristus dan meneladani orientasi hidup dan pelayanan  Kristus.  Itulah gereja sebagai perwujudan fisik maupun rohani.   Secara moral dan etika, hidup bersama dalam Kristus berarti orientasi dan upaya menuju nilai-nilai kehidupan bersama sebagaimana diterapkan oleh Yesus dalam hidup, pelayanan maupun masalah-masalah etis yang dihadapinya. Hidup yang terarah pada misi Allah bagi dunia (global).</p>
<p><strong>(2)   </strong><strong>Diperkuat oleh Roh Kudus.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Umat Kristiani meyakini,  pekerjaan Roh Kudus  membuahkan  kebaikan-kebaikan hidup,  antara lain:  Menguatkan dan meneguhkan iman (Ef. 3: 16); menguduskan (Galatia 5: 16 dstnya; Ef 2: 22);  sebagai jaminan yang diberikan Allah bagi orang-orang percaya (Ef 1: 14);  peningkatan  kemampuan/talenta  untuk menyatakan kesaksian iman (Kisah Rasul 4: 8; 13: 9).  Meski demikian, pekerjaan Roh,  tak hanya membuahkan kekuatan  iman, peningkatan talenta, dan kesalehan pribadi melainkan juga menghasilkan aspek-aspek etis dalam kehidupan bersama persekutuan maupun masyarakat yang lebih luas yakni: Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan dan penguasaan diri (Galatia 5: 22-23). Dengan kata lain,  hidup bersama di dalam Kristus dan berbagai manifestasinya yang bersifat pribadi (iman, talenta/kemampuan,  kesalehan, pengudusan) maupun bersifat etis-sosial adalah buah-buah dari Roh Kudus.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Karena itu, penguatan oleh Roh Kudus meliputi   dimensi personal maupun  sosial yang luas. Selama ini buah-buah Roh lebih diklaim sebagai keutamaan  “orang-orang terpilih”  yang memiliki talenta  berbahasa Roh, mampu melakukan mukjizat antara lain kuasa penyembuhan dari berbagai jenis penyakit, atau mengusir roh jahat yang menguasai seseorang, kuasa mendatangkan sukses (karir, cita-cita, harta kekayaan, bisnis  dan usaha-usaha lain) dalam hidup seseorang. Klaim-klaim ini jelas membangun tembok pemisah dengan “orang-orang kebanyakan” dan memperlihatkan arogansi seseorang yang mengklaim diri “dipenuhi Roh”.</p>
<p>Konteks “hidup bersama dalam Kristus” yang menjadi lokus bekerjanya  Roh Kudus mengandaikan bahwa karya-karya penguatan Roh Kudus di dalam hidup personal maupun komunal tidaklah berhenti sebatas “untuk kalangan sendiri” melainkan meliputi  misi  Allah bagi dunia yakni menjadikan bumi sebagai hunian yang lebih adil, sejahtera, dan damai. Roh Kudus bekerja di seluruh dunia dan bukan di lingkungan terbatas berbasis identitas religious. Inilah arti misi global dari syalom Allah: Berpijak lokal dengan misi global!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>KERANGKA POKOK PIKIRAN MAK TVRI</em></p>
<p><em>Rainy MP Hutabarat</em></p>
<p><em> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakomapgi.org/%e2%80%9chidup-bersama-dalam-kristus-diperkuat-oleh-roh-kudus%e2%80%9d/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PELATIHAN PERENCANAAN PRODUKSI PROGRAM TELEVISI</title>
		<link>http://yakomapgi.org/pelatihan-perencanaan-produksi-program-televisi</link>
		<comments>http://yakomapgi.org/pelatihan-perencanaan-produksi-program-televisi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 03:43:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nuryana Aditya</dc:creator>
				<category><![CDATA[YAKOMA-PGI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yakomapgi.org/?p=1312</guid>
		<description><![CDATA[&#160; &#160; Sejak Oktober 2008, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia  (PGI) mendapat kesempatan untuk  memproduksi program televisi melalui salah satu stasiun televisi nasional di Indonesia (TVRI). Program ini bertujuan untuk mengabarkan kabar baik bagi semua orang. Penayangannya dilakukan sekali dalam seminggu dan mendapat respon yang cukup baik dari pemirsa di seluruh Indonesia (berdasarkan hasil SMS yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong><a href="http://yakomapgi.org/wp-content/uploads/2011/11/video.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1313" title="Peserta Pelatihan Produksi Video" src="http://yakomapgi.org/wp-content/uploads/2011/11/video-300x180.jpg" alt="" width="300" height="180" /></a></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sejak Oktober 2008, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia  (PGI) mendapat kesempatan untuk  memproduksi program televisi melalui salah satu stasiun televisi nasional di Indonesia (TVRI). Program ini bertujuan untuk mengabarkan kabar baik bagi semua orang. Penayangannya dilakukan sekali dalam seminggu dan mendapat respon yang cukup baik dari pemirsa di seluruh Indonesia (berdasarkan hasil SMS yang masuk).<span id="more-1312"></span></p>
<p>Seiring dengan perjalanan waktu, sejak tahun 1989 pemerintah memberikan kesempat-an bagi stasiun televisi swasta untuk beroperasi. Hal ini berarti bahwa TVRI bukanlah satu-satunya stasiun televisi di Indonesia (TVRI berdiri sejak tahun 1962 silam). Undang-undang No.32 tahun 2002 tentang penyiaran, pemerintah memberikan peluang dalam pendirian stasiun televisi lokal di mana untuk siaran nasional harus melakukan siaran berjaringan antar beberapa stasiun televisi lokal. Hingga saat ini tercatat 11 stasiun televisi nasional dan 152 televisi lokal dan juga beberapa TV kabel (berlangganan).</p>
<p>Selain tantangan di atas, tantangan yang lain adalah munculnya berbagai  program televisi Kristen yang diproduksi oleh berbagai pihak baik di dalam maupun luar negeri. Warna yang ditampilkan juga sangat beragam mulai dari penyembuhan, keselamatan, persoalan rumah tangga, permasalahan anak muda yang tujuannya adalah menjangkau jiwa-jiwa agar lebih mengenal Kristus. Kehadiran program televisi yang berkualitas baik dari segi teknis, format maupun konten yang ditampilkan menjadi sangat penting untuk menarik perhatian pemirsa televisi terutama di tengah-tengah masyarakat yang plural dan demokratis di Indonesia.</p>
<p>Sejak PGI memproduksi programnya, berbagai perubahan format dan strategi komunikasi  telah dilakukan agar program ini bisa diterima dan dinikmati oleh semua orang. Dari format khotbah, talkshow, feature (profil pelayanan) yang diiringi oleh berbagai Paduan Suara telah diproduksi. Tentu saja dengan berbagai tantangan di atas, PGI harus senantiasa berbenah diri untuk menampilkan produksi yang lebih menarik,  dan dapat diterima oleh semua orang. Diperlukan suatu kegiatan untuk merencanakan produksi berdasarkan visi dan misi, kondisi real Indonesia agar ditemukan format yang sesuai dengan kebutuhan pemirsa sehingga bisa menjangkau semua orang.</p>
<p><span style="font-family: Arial, sans-serif; font-size: small;"><strong><br />
</strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yakomapgi.org/pelatihan-perencanaan-produksi-program-televisi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

