RADIO UNTUK PERDAMAIAN
December 2, 2011 by Nuryana Aditya
Filed under YAKOMA-PGI
Radio adalah media yang menggunakan suara dalam penyampaian informasi, bersifat langsung dan seketika. Karena itu, dibandingkan dengan media cetak, informasi yang disampaikan melalui radio lebih cepat tersebar di tengah-tengah masyarakat, dan dapat terus diperbarui. Karena sifatnya audio (suara), maka radio juga lebih mampu mendorong pendengar untuk mengembangkan imajinasinya sendiri. Melalui komentarnya yang mengebu-gebu dengan artikulasi dan intonasi yang tepat, misalnya, seorang komentator sepakbola dapat membawa pendengar seolah-olah berada di stadion dan menonton langsung pertandingan tersebut.
Untuk wilayah yang relatif terpencil dan infrastruktur serta sarana transportasi buruk, radio merupakan media yang cocok untuk dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan informasi komunitas-komunitas lokal. Biayanya peralatan dan pengelolaannya juga relatif lebih murah.
Bertolak dari kebutuhan tersebut, YAKOMA-PGI bekerjasama dengan Badan Usaha Milik Gereja – Gereja Masehi Injili di Halmahera (BUMG-GMIH) menyelenggarakan Lokakarya Radio untuk Perdamaian tanggal 26-28 Agustus 2011 di Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Utara. Lokakarya ini diorganisir oleh POKJA Hibualamo, didukung oleh 2 (dua) radio lokal untuk praktik siaran bagi peserta yakni Radio Syalom dan Radio Suara Paksi Buana, dan diikuti 34 peserta (… perempuan dan …. laki-laki) penyiar radio lokal, penyiar radio pemula, dan mahasiswa. Sebagai wilayah yang pernah mengalami konflik sosial bersenjata di wilayah Duma-Galela tahun 1999-2000, GMIH bersama pemerintah daerah setempat terus berupaya memupuk budaya damai dan mengikis potensi-potensi konflik sosial di Halmahera melalui penyelenggaraan media yang berperspektif perdamaian, khususnya radio.
Perspektif Perdamaian
Itulah sebabnya Lokakarya Radio ini menggunakan perspektif perdamaian. Halmahera adalah bekas wilayah konflik sosial. Topik perdamaian menjadi pokok perbincangan di awal Lokakarya. Apakah perdamaian itu? Apa kaitannya dengan pluralisme yang menjadi syarat terciptanya perdamaian yang sejati dan berkelanjutan?
Dari hasil diskusi, para peserta memahami pluralisme sebagai: (1) Interaksi sosial antarkelompok dalam suatu masyarakat; (2) Menghormati keanekaragaman dan perbedaan dalam masyarakat; (3) Mengembangkan hidup berdampingan dan berinteraksi yang dilakukan tanpa adanya keinginan untuk berkonflik. Setiap konflik atau benturan terjadi dapat diatasi dengan berdialog dan berupaya menemukan solusi tanpa kekerasan serta membangun kehidupan yang harmonis. Dalam konteks ini, salah satu sarana untuk mengembangkan dialog adalah melalui radio.
Pada tahap selanjutnya, peserta diajak untuk mengenal perkembangan radio saat ini, yaitu radio dengan stasiun pemancar (radio konvensional) dan radio internet (radio streaming) dan bagaimana pembuatan radio streaming.
Perbedaan antara dua radio adalah :
|
Radio Konvensional |
Radio Streaming |
|
| Jangkauan | Terbatas – tergantung daya pemancar | Tidak terbatas – dapat menjangkau dunia |
| Investasi | TInggi | Rendah |
| Perijinan | Memerlukan izin | Tidak perlu izin |
Mengapa Analisa Sosial?
Analisa sosial dipergunakan sebagai satu alat untuk memperjuangkan tujuan tertentu. Metode analisa sosial ini dipergunakan untuk menganalisa masalah sosial misalnya kemiskinan, pendidikan, lembaga sosial seperti sekolah, proyek pembangunan dan lain-lain. Untuk melakukan analisa sosial, para pihak yang berkepentingan menentukan dan memilih sasaran analisa, mengumpulkan fakta dan data dan membuat deskripsi masalah yang lebih jelas. Deskripsi masalah tersebut dapat dikelompokkan ke dalam 3 soal dalam kehidupan masyarakat, misalnya sosial budaya, ekonomi dan politik. Dari pengelompokan tersebut, dapat dianalisa secara mendalam dan menjadi bahan untuk menemukan kesimpulan tentang apa yang bisa dikerjakan secara perorangan atau per kelompok.
Setelah mendapat penjelasan tentang analisa sosial, peserta dibagi ke dalam kelompok dan melakukan analisa sosial tentang masalah-masalah sosial kemasyarakatan yang muncul di Halmahera Utara. Hasil analisa sosial ini akan menjadi bahan penyusunan materi siaran.
Selanjutnya peserta diperkenalkan dengan prinsip dasar penyiaran radio yaitu,
- Interaksi penyiar radio dengan pendengar hanya dengan suara. Karena itu informasi yang disampaikan dengan konsep menyuarakan (bertutur). Penyusunan informasi juga dilakukan dengan dengan konsep bertutur dan bukan konsep membaca
- Radio bersifat sekali dengar, sehingga informasi yang disampaikan harus bersifat jelas, sederhana, dan akurat. Dalam sekali ucap harus dapat dimengerti oleh pendengar dan tidak menimbulkan salah persepsi.
Menyusun Materi Siaran dalam Kelompok
Hasil-hasil analisa sosial oleh kelompok-kelompok dijadikan bahan untuk penyusunan materi siaran. Dibagi dalam 5 (lima) kelompok, para peserta coba menyusun materi siaran dan mempresentasikannya untuk ditanggapi oleh para peserta yang lain. Masukan-masukan dari rekan-rekan peserta dan fasilitator digunakan untuk menyempurnakan materi siaran yang telah disusun oleh kelompok-kelompok. Inilah yang dijadikan bahan siaran secara bergiliran di dua stasiun radio yaitu Radio Syalom dan Radio Suara Paksi Buana. Praktik siaran didampingi oleh penyiar dan operator teknis kedua stasiun radio tersebut.
Rencana tindak lanjut dari lokakarya ini adalah melakukan siaran rutin di kedua stasiun radio tersebut. Fasilitator dalam lokakarya ini antara lain Ir. Kris Hidayat (Format Radio dan Teknik Pembuatan Materi Siaran) dan Esrom Aritonang, Msi (Analisis Sosial).**





